Selasa, 10 Oktober 2017

Apakah Ekonomi Islam Mengenal Konsep Kelangkaan?

Apakah Ekonomi Islam Mengenal Konsep Kelangkaan?
11 August 2017

Jika berbicara mengenai ekonomi Islam, hal pertama yang otomatis muncul dalam pikiran kita tentu tak jauh-jauh dari istilah bunga, riba, perbankan syariah, bagi hasil, ataupun mudharabah. Dewasa ini, definisi ekonomi Islam mengalami penyempitan makna. Sejatinya, saat kita berbicara mengenai ekonomi, yang dimaksud adalah sistem ekonomi secara keseluruhan. Entah itu mengenai mekanisme pasar, konsep penawaran dan permintaan, maupun masalah-masalah ekonomi secara global. Pun demikian dengan ekonomi Islam, ekonomi Islam tidak hanya berbicara mengenai bunga, riba, ataupun yang lainnya. Katakanlah bahwa ekonomi Islam adalah definisi ekonomi secara umum ditambah dengan kata Islam, yang artinya segala hal yang berkaitan dengan ekonomi yang sesuai dengan prinsip-prinsip dan kaidah agama Islam.

• Berangkat dari Definisi

Sebelum membahas lebih jauh mengenai pentingnya ekonomi Islam,alangkah baiknya jika pembahasan ini mencakup definisi ekonomi Islam itu sendiri.  Ekonomi Islam adalah sebuah ilmu yang memperlajari permasalahan-permasalahan ekonomi baik mengenai alokasi sumber daya dan kelangkaan yang sesuai dengan prinsip Islam yakni sejalan dengan Al-Qur’an dan Sunnah.
Umar Chapra dalam bukunya “What Is Islamic Economics?” mendefinisikan ekonomi Islam menggunakan istilahnya sendiri yakni sebagai salah satu cabang ilmu pengetahuan yang memiliki tujuan untuk mengalokasikan dan mendistribusikan sumber daya yang terbatas sesuai dengan prinsip dan kaidah Islam tanpa terlalu membatasi kebebasan individual atau menciptakan ketidakseimbangan lingkungan. (Chapra, 1996, p.33)
Dengan demikian, ekonomi Islam tidak hanya sebatas berbicara tentang riba saja melainkan seluruh permasalahan-permasalahan ekonomi yang dibahas pula dalam ekonomi konvensional, seperti masalah kelangkaan dan alokasi sumber daya alam. Kemudian muncul pertanyaan, “apakah Islam memandang sumber daya alam sebagai sesuatu hal yang langka?"

• Konsep Kelangkaan

Jawaban dari pertanyaan diatas telah tercantum dalam Q.S Al Furqan ayat 2 yang artinya: “yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan (Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.”
Telah jelas terdefinisikan, bahwa jika Allah telah menciptakan segala sesuatu menurut ukuran-ukuran dengan serapi-rapinya. Maka Islam tidaklah mengenal konsep kelangkaan ini. Segala sesuatu yang Allah ciptakan termasuk sumber daya alam yang tersedia di bumi telah disediakan dan diciptakan sesuai dengan kadarnya masing-masing. Misalnya saja kita mengambil contoh kadar oksigen bumi sebesar 21%, apa yang akan terjadi jika kadar oksigen bumi lebih besar atau kurang dari 21%? Jika kadar oksigen lebih besar dari 21% maka yang terjadi adalah setiap percikan api yang muncul meski hanya sedikit akan menimbulkan bencana kebakaran yang dahsyat. Sebaliknya jika kadar oksigen kurang dari 21% maka manusia dan seluruh makhluk hidup yang ada di bumi akan mati karena kekurangan oksigen.
Demikian halnya dengan semua sumber daya alam lain yang telah Allah ciptakan. Semuanya sesuai dengan kadarnya masing-masing, tidak kurang dan juga tidak lebih. Namun bukan berarti definisi yang diungkapkan Umar Chapra diatas salah, kata kelangkaan dan alokasi sumber daya yang digunakan dalam pendefinisian tersebut lebih menunjukkan bahwa ekonomi Islam bukanlah sebuah ilmu ekonomi yang ghaib, tetapi ilmu ekonomi Islam pun sama dengan ilmu ekonomi konvensional yang mempelajari permasalahan ekonomi secara keseluruhan dengan kelebihannya yang lain yakni memiliki sumber rujukan yang pasti yaitu Al-Qur’an dan Hadits.

5 Keuntungan Investasi Syariah Dibandingkan Investasi Konvensional

Bagi seorang muslim, menjalankan berbagai hal sesuai aturan agama merupakan hal penting. Investasi syariah menjadi solusi yang tepat di tengah maraknya berbagai pilihan investasi. Apalagi, investasi jenis ini juga memberikan beragam keuntungan yang tidak bisa ditemukan pada investasi konvensional.
Setidaknya, ada 5 keuntungan yang bisa didapatkan dari investasi syariah, yakni:
1.    Investasi sesuai syariat Islam
Hal pertama dan paling penting dari investasi syariah adalah, kesesuaiannya dengan aturan syariat agama Islam. Investasi ini memenuhi berbagai kriteria, termasuk di antaranya adalah memiliki barang halal, dilakukan dengan cara halal, serta digunakan secara halal.
2.    Bebas riba
Selanjutnya, investasi ini memberikan perlindungan seorang investor dari ancaman riba. Hal ini berbeda dengan investasi konvensional yang sering bercampur dengan faktor riba. Hal ini sangat penting, terutama bagi umat Islam. Mengingat, riba merupakan salah satu dosa besar. Pelakunya pun mendapatkan ancaman azab, baik di dunia ataupun di akhirat.
3.    Lebih aman
Investasi jenis ini juga memberikan jaminan keamanan lebih tinggi. Alasannya, karena setiap investasi yang islami, harus menjauhi gharar atau pemberian informasi yang tidak lengkap. Gharar kerap dilakukan dengan tujuan untuk menyesatkan para calon investor.
Selain itu, investasi syariah juga harus menjauhi hal-hal yang maysir, transaksi yang mengandung unsur judi. Dengan begitu, investor bisa menyerahkan uangnya kepada pengusaha tanpa rasa khawatir.
4.    Didukung aturan perundang-undangan
Investasi syariah juga memiliki dasar hukum yang jelas, tercantum dalam UU Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah. Dalam praktiknya, penyelenggaran investasi mendapatkan pengawasan secara langsung dari Dewan Syariah Nasional MUI.
5.    Tak hanya untuk secara finansial, tapi juga secara sosial
Hal yang tidak kalah penting, investasi syariah juga memberikan manfaat besar secara sosial. Keberadaannya bisa membantu para pengusaha dalam memperluas usahanya. Selain itu, investasi ini juga memiliki peran dalam mengurangi tingkat pengangguran di masyarakat. Keuntungan finansial diperoleh, pahala juga didapatkan.
Hanya saja, Anda perlu berhati-hati dalam memilih investasi syariah yang ingin digunakan. Tidak jarang, ada pula pihak secara sengaja menggunakan label syariah sebagai sarana penipuan. Jadi, waspada dalam berinvestasi merupakan hal yang mutlak.

Konsep Keadilan dalam Ekonomi

Konsep Keadilan dalam Ekonomi
22 August 2017

Konsep keadilan dalam ekonomi terdiri dari beberapa prinsip salah satunya adalah distribusi pendapatan yang merata. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Credit Suisse Global Wealth Report 2015 menyatakan bahwa jika pendapatan 300 orang terkaya di dunia ini dikumpulkan, maka jumlah yang diperoleh masih lebih banyak jika dibandingkan dengan jumlah pendapatan 3 milyar penduduk termiskin. Untuk memudahkan komparasi, nominal ini memang telah dibulatkan.  Namun faktanya, jumlah pendapatan 250 penduduk terkaya ini mencapai $ 2,7 triliun sedangkan 3,5 milyar penduduk miskin lainnya hanya memiliki pendapatan $ 2,2 triliun jika dikombinasikan.
Sementara itu di dalam Al-Qur’an, kata adil (al-mizan, al-‘adl dan al-qisth) menduduki posisi ketiga sebagai kata yang paling banyak disebut setelah Allah dan ‘ilm. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya konsep keadilan ini diterapkan dalam setiap aspek kehidupan manusia salah satunya dalam ekonomi.
Salah satu ayat dalam Al-Qur’an yang menuntut adanya distribusi pendapatan yang merata terdapat pada Al-Hasyr ayat 7 “Agar harta itu jangan hanya beredar di kalangan orang kaya saja diantara kamu”. Agar distribusi harta ini dapat tercapai secara optimal, peran pemerintah menjadi sangat penting untuk membuat kebijakan dan regulasi. Namun, peran pemerintah saja tidaklah cukup. Setiap lapisan masyarakat perlu menyadari pentingnya distribusi kekayaan ini serta terlibat aktif agar tercipta distribusi harta yang lebih merata. Sehingga pada akhirnya keadilan dalam ekonomi dapat tercapai secara sempurna.

Dampak Bahaya Riba Terhadap Pelaku Usaha Kecil



Siapapun bisa menjadi seorang pengusaha. Mulai dari mereka yang lulus dari perguruan tinggi terkemuka luar negeri, hingga seorang lulusan SD sekalipun. Meski, tidak semua orang yang memilih jalan menjadi pengusaha berakhir dengan kesuksesan. Hal ini bergantung dengan kerja keras dan kemauan masing-masing.
Saat ini, menjadi pengusaha juga semakin dipermudah. Terutama akses mendapatkan modal. Bahkan banyak yang menawarkan pinjaman tanpa agunan. Hanya saja, tidak semua modal tersebut memiliki dampak yang positif. Tidak jarang, pinjaman tanpa agunan yang didapatkan malah menjadi sumber kehancuran usaha. Hal ini pun kerap dialami, terutama di kalangan pelaku usaha kecil dan menengah.

Mereka kerap memanfaatkan layanan pinjaman modal usaha yang ditawarkan oleh berbagai pihak. Apalagi, syarat yang diperlukan bisa dipenuhi dengan mudah. Namun, hanya sedikit yang menyadari kalau pinjaman modal usaha atau pinjaman tanpa agunan tersebut merupakan awal kemunculan ancaman bahaya riba. Tidak hanya menyangkut diri sendiri, tapi juga keluarga dan orang-orang terdekat.

Agama Islam secara tegas mengharamkan berbagai jenis riba dan termasuk dalam jenis dosa besar. Umat Islam pun telah diingatkan berulang kali mengenai bahaya riba. Bahkan, para pelaku aktivitas riba, seperti dalam QS. Al-Baqarah :278-279, disebut sebagai orang yang memerangi Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW.

Meski ancaman yang sedemikian besar, banyak pelaku usaha yang masih menggantungkan hidupnya dengan utang riba yang berbentuk pinjaman tanpa agunan. Mulai dari pelaku usaha kecil hingga pemilik perusahaan besar.  Padahal, bahaya riba terlihat secara nyata bagi seorang pelaku usaha. Termasuk di antaranya adalah:

1.    Jeratan utang yang tak kunjung usai
Fenomena yang sering muncul, riba menjadikan utang tidak kunjung selesai. Bukannya lunas, utang tersebut malah bertambah banyak. Alasan utamanya adalah, nilai bunga yang sangat tinggi.

2.    Hilangnya rasa empati
Bahaya riba bagi pelaku usaha kecil berikutnya adalah hilangnya rasa empati kepada sesama. Alih-alih memikirkan nasib orang-orang yang tidak beruntung, mereka lebih memikirkan caranya untuk melunasi tagihan bulanan.
3.    Pola hidup yang boros
Riba juga menimbulkan pola hidup yang boros bagi para pelakunya. Termasuk yang memberi utang atau yang mengajukan utang.
4.    Harta yang tidak membawa berkah
Uang yang dihasilkan dari utang riba memang terlihat besar. Hanya saja, sering harta tersebut malah menjauhkan pemiliknya dari orang-orang di sekitar dan Allah SWT.
5.    Azab di dunia dan di akhirat
Bahaya riba tidak hanya dirasakan di dunia. Mereka yang terjerumus dalam praktik ini juga mendapatkan ancaman yang tak kalah besar di akhirat kelak.
Dengan bahaya yang sedemikian besar, masih tertarik dengan utang riba? Yuk investasi kepada UKM potensial dengan bebas riba di sini

Prinsip Mengambil Keuntungan yang Islami

Prinsip Mengambil Keuntungan yang Islami
26 August 2017


Islam merupakan agama yang lengkap, memiliki aturan di berbagai sektor kehidupan.
Terkait aktivitas berhubungan dengan Allah SWT ataupun hubungan dengan sesama
manusia. Salah satunya adalah dalam aktivitas perekonomian. Dalam agama Islam,
setiap aktivitas ekonomi harus dilakukan secara adil dan tidak merugikan salah satu
pihak.

Salah satu metode mencari  pinjaman modal usaha yang islami dan sering digunakan adalah
mudharabah atau bagi hasil. Hal ini dilakukan ketika ada dua pihak yang memutuskan
salah bekerja sama. Kerja sama tersebut pun bisa dilakukan dengan berbagai cara.
Disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.

Misalnya, satu pihak berperan sebagai investor yang memberikan pinjaman modal usaha dan pihak
yang lain bertugas menjadi pelaku usaha. Dalam hal ini, kedua pihak harus memiliki peran yang jelas.
Bagi seorang investor, modal yang digunakan harus bisa dinilai secara ekonomi. Modal tersebut juga
bukan hasil utang dan harus diberikan kepada pengusaha.

Sementara itu, pelaku usaha juga harus memiliki rencana yang matang dalam bisnis
yang dijalankannya. Mulai dari pinjaman modal usaha yang dibutuhkan, jenis usaha yang dijalankan,
rencana jangka pendek, hingga rencana jangka panjang. Hal tersebut sangat penting
untuk meyakinkan seorang investor.

Tidak ada ketentuan dalam Islam yang mengatur porsi modal atau pekerjaan dari
masing-masing pihak. Hal tersebut bisa diatur dalam akad atau pernjanjian awal.
Selanjutnya, bagi hasil keuntungan pun dilakukan berdasarkan persentase yang telah
disepakati. Nilai persentase harus jelas dan tidak berat sebelah. Misalnya, 10% atau 5%
per bulan.

Jangan mencantumkan nilai persentase yang tidak jelas, seperti pola bagi hasil
keuntungan sebesar 10%-50% per bulan. Hal ini akan menimbulkan ketidak jelasan
saat usaha sudah berjalan. Selain itu, uang yang dibagikan kepada pemilik modal
diambil dari persentase keuntungan bersih. Bukan dari persentase nilai investasi.

Hal yang tidak kalah pentingnya, bagi hasil tersebut bukan hanya berkaitan dengan
keuntungan, tapi juga kalau terjadi kerugian. Dengan begitu, pengusaha juga
mendapatkan perlindungan hukum kalau terjadi kerugian akibat hal yang berada di luar
kuasanya. Misal, terjadi bencana alam.

Lalu, dari mana cara mendapatkan dana investasi syariah ? Saat ini, tidak sulit bagi seorang
pengusaha untuk mendapatkan modal. Hal tersebut bisa dilakukan dengan berbagai
cara. Termasuk salah satunya adalah dengan memanfaatkan situs crowdfunding. indves.com 
salah satunya.

Tertarik menjadi pengusaha?

3 Peran Penting UMKM, Penggerak Sektor Ekonomi Indonesia di Tingkat Menengah ke Bawah

3 Peran Penting UMKM, Penggerak Sektor Ekonomi Indonesia di Tingkat Menengah ke Bawah
25 August 2017


Usaha mikro,  kecil, dan menengah (UMKM) memiliki peran penting dalam perekonomian masyarakat Indonesia. Pemerintah Indonesia pun memandang penting keberadaan para pelaku UMKM. Buktinya, UMKM bersama dengan Koperasi memiliki wadah secara khusus di bawah Kementerian Koperasi dan UKM.

Perhatian tinggi yang diberikan kepada para pelaku UMKM tersebut tidak lain sebagai wujud pemerintah dalam menyangga ekonomi rakyat kecil. Apalagi, UMKM mampu memberikan dampak secara langsung terhadap kehidupan masyarakat di sektor bawah.
Setidaknya, ada 3 peran UMKM yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat kecil. Tiga peran tersebut adalah:

1.    Sarana mengentaskan masyarakat dari jurang kemiskinan
Peran UMKM penting yang pertama adalah sebagai sarana mengentaskan masyarakat kecil dari jurang kemiskinan. Alasan utamanya adalah, tingginya angka penyerapan tenaga kerja oleh UMKM.
Hal ini terbukti dalam data milik Kementerian Koperasi dan UMKM tahun 2011. Disebutkan, lebih dari 55,2 juta unit UMKM mampu menyerap sekitar 101,7 juta orang. Angka tersebut meningkat menjadi sekitar 57,8 juta unit UMKM dengan jumlah tenaga kerja mencapai 114 juta orang.

2.    Sarana untuk meratakan tingkat perekonomian rakyat kecil
UMKM juga memiliki peran yang sangat penting dalam pemerataan ekonomi masyarakat. Berbeda dengan perusahaan besar, UMKM memiliki lokasi di berbagai tempat. Termasuk di daerah yang jauh dari jangkauan perkembangan zaman sekalipun.
Keberadaan UMKM di 34 provinsi yang ada di Indonesia tersebut memperkecil jurang ekonomi antara yang miskin dengan kaya. Selain itu, masyarakat kecil tak perlu berbondong-bondong pergi ke kota untuk memperoleh penghidupan yang layak.

3.    Memberikan pemasukan devisa bagi negara
Peran UMKM berikutnya yang tidak kalah penting adalah, memberikan pemasukan bagi negara dalam bentuk devisa. Saat ini, UMKM Indonesia memang sudah sangat maju. Pangsa pasarnya tidak hanya skala nasional, tapi internasional.

Data dari Kementerian Koperasi dan UKM di tahun 2017 menunjukkan tingginya devisa negara dari para pelaku UMKM.  Angkanya pun sangat tinggi, mencapai Rp88,45 miliar. Angka ini mengalami peningkatan hingga delapan kali lipat dibandingkan tahun 2016.
Dengan tiga peran yang dimilikinya tersebut, tidak salah kalau para pelaku UMKM tak bisa dipandang sebelah mata.

Mengenal Akad Mudharabah dalam Ekonomi Islam

Mengenal Akad Mudharabah dalam Ekonomi Islam
19 September 2017

Pernahkah Anda mengajukan pinjaman melalui bank syariah? Jika pernah, maka sedikit banyak Anda pasti mengenal tentang akad mudharabah. Dari asal katanya, mudharabah juga berarti dharb yang bermakna menanggung. Beberapa pendapat ulama dan fukaha menyatakan bahwa mudharabah masuk dalam kategori syirkah, dan Alquran memuat kata dharaba sebanyak 58 kali. Istilah ini tidak asing dalam ranah ekonomi Islam.
Pengertian Akad Mudharabah
Dalam istilah ekonomi syariah, mudharabah adalah kegiatan transaksi atau kerja sama antara pemilik dana dan pengelola dana untuk kepentingan usaha. Keuntungan atau laba yang diperoleh dari usaha tersebut kemudian dibagi rata di antara keduanya, berdasarkan nisbah bagi hasil yang telah disepakati oleh kedua belah pihak.
Jika dalam praktiknya usaha tersebut mengalami kerugian, maka jumlah kerugian tersebut ditanggung oleh pemilik dana. Namun, kerugian tersebut harus ditanggung oleh si pengelola dana apabila diakibatkan oleh kelalaian atau pelanggaran yang dilakukan oleh pengelola dana.
Akad mudharabah dalam ekonomi islam bergantung pada asas kepercayaan. Hal serupa telah terjadi sejak zaman Rasulullah, saat beliau dipercaya oleh Khadijah untuk membawa barang dagangan dan menjualnya ke negeri Syam. Asas kepercayaan menjadi penting dalam akad mudharabah karena pemilik dana tidak boleh ikut campur dalam proses pengelolaan dana, kecuali dalam hal memberi saran dan melakukan pengawasan.
Syarat dan Rukun Terjadinya Akad Mudharabah
Berikut adalah syarat dan rukun yang harus dipenuhi sebelum terjadinya akad mudharabah:
  • Adanya pemilik modal dan pengelola dana yang telah balig dan berakal sehat.
  • Adanya modal yang diserahkan dalam bentuk tunai, bukan utang. Modal bisa berupa uang atau aset lainnya yang memiliki nilai jelas dan wajar.
  • Terjadinya ijab dan kabul yang menunjukkan persetujuan kedua belah pihak.
  • Nisbah keuntungan ditentukan untuk kedua belah pihak, dengan jumlah pembagian yang jelas dan adil. Jika ada perubahan nisbah, ketentuannya harus berdasarakan persetujuan pemilik modal dan pengelola dana.
Akad mudharabah memiliki masa yang tidak menentu dan tidak terbatas. Kerja sama tersebut bisa terputus apabila salah satu pihak mengundurkan diri dari perjanjian. Di awal, biasanya kedua pelaku akan menentukan durasi kerja sama sesuai kesepakatan. Akad tersebut juga bisa terputus apabila salah satu pihak kehilangan akal, meninggal dunia, pengelola dana tidak amanah, dan hilangnya modal.